Monday, March 28, 2011

SOSIO ANTROPOLOGI


1.      Jelaskan Relevansi Mata Kuliah Sosio-antropologi dengan perkembangan kompetensi Mahasiswa sebagai calon pendidik.

 Pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang maju, modern dan sejahtera. Sejarah perkembangan dan pembangunan bangsa-bangsa mengajarkan pada kita bahwa bangsa yang maju, modern, makmur, dan sejahtera adalah bangsa-bangsa yang memiliki sistem dan praktik pendidikan yang bermutu. Sementara itu, pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu, yakni guru yang profesional, sejahtera, dan bermartabat.
Salah satu masalah Pendidikan Nasional saat ini adalah rendahnya pembinaan dan pendidikan moral yang diperoleh peserta didik, pendidikan lebih berorientasi pada kemampuan akademik supaya siswa sukses dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan ke dunia kerja. Pendidikan belum mampu menghasilkan generasi yang memiliki kemapuan akademik dan kemampuan non akademik secara proporsional. Padahal tujuan Pendidikan Nasional mengarahkan pendidikan untuk menghasilkan generasi yang memiliki kemampuan akademik yang mumpuni sekaligus memiliki moral yang baik.Kesenjangan antara kedua kompetensi tersebut menandakan bahwa telah terjadi distorsi dalam proses pembelajaran baik di sekolah, rumah, dan masyarakat. Selama ini pelaku pendidik terutama guru dan orang tua bukan tidak melaksakan tugas, tetapi guru dan orang tua belum menjadi teladan bagi anak.
Dengan mempelajari sosilogi antropologi diharapkan Mahasiswa calon pendidik mampu mengerti berbagai kebutuhan siswa. Dengan ilmu sosilogi belajar interaksi siswa, dengan belajar antropologi belajar berbagai artefak maupun ilmu lain yang menunjang kemajuan siswa. Hal ini sangat relevan dengan kebutuhan siswa. Dari sini mahasiswa tahu cara mengajar misalnya melalui kompetensi pedagogik. kompetensi pedagogik bukan hanya kompetensi yang bersifat teknis belaka yaitu kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik tetapi juga seni dan ilmu pengetahuan di dalam mengajar dan mendidik (the art and science of teaching and educating). Menurut UU no 14 tahun 2005 kompetensi pedagogik mencakup selain pemahaman dan pengembangan potensi peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran serta sistem evaluasi pembelajaran juga harus menguasai ”ilmu pedidikan”. Kompetensi ni diukur dengan performance test atau episode terstruktur dalam Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) dan case based test yang dilakukan secara tertulis.
2.      Faktor Kebudayaan berpengaruh terhadap keberhasilan maupun kegagalan siswa dalam meraih prestasi. Jelaskan mengenai hal tersebut!
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan. Maka dengan jelas dapat dijelaskan mengenai pengaruh kebudayaan dengan tingkat keberhasilan siswa. Sistem sosial yang Madani akan memiliki pengaruh kuat dalam keberhasilan siswa, lingkungan yang positif dengan berbagai tatanan nilai dan norma akan membawa siswa pada kodisi yang matang. Aktivitas siswa dalam masyarakat juga sangat berpengaruh.Namun Budaya asing memiliki andil besar dalam membentuk moral siswa. Seperti kita tau dekadensi moral yang terjadi akibat globalisasi menjadi hal krusial yang sulit ditangani. Modernisasi yang berpengaruh pada pola konsumerisme yang telah menjamur menjadi efek negatif adanya akulturasi buadya asing.
3.      Mengapa kebudayaan perlu ditransfer dari generasi ke generasi?
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan bentuk Republik (NKRI) yang memiliki beranekaragam kebudayaan. Dimana kebudayaan Indonesia terdiri dari 4 jenis sistem budaya: 1. Jenis sistem budaya etnik pribumi (sistem adat). 2. Sistem budaya agama besar (mereka berasal dari luar Indonesia). 3. Sistem budaya Indonesia yang menaungi kelompok pribumi dan kelompok non pribumi. 4. Sistem budaya majemuk yaitu system budaya asing. 
Pendidikan di Indonesia merupakan suatu proses dan alat untuk mempelajari, melestarikan, mewarisi dan mengembangkan kebudayaan sesuai dengan tujuan pendidikan dan kebudayaan tersebut.  Tantangan budaya asing terhadap kelestarian dan perkembangan Budaya Indonesia.  Pola pikir masyarakat yang selaras dengan perkembangan zaman (di era globalisasi ini) yang kian meninggalkan budaya Indonesia sehingga hampir tidak mempunyai rasa memiliki. Sebagai contoh saat Budaya Indonesia diklaim sebagai budaya Negara lain baru merasa kehilangan.
 “Suatu akibat baru dirasakan sebagai gejala padahal hal tersebut sudah merupakan akibat dari permasalahan”.  Sifat Individualistik yang serba diburu oleh uang dan waktu sehingga hidup serba instant dan mengabaikan pentingnya kerukunan dan social budaya sehingga berdampak pada sifat lebih mementingkan kepentingan pribadi dan golongan yang pada akhirnya berakibat pada suatu konflik.  Sistem pendidikan nasional yang sudah mulai menerapkan MPMBS sehingga pendidikan yang semula sentralik berubah menjadi desentralik akan memberikan dampak positif maupun negatif.  Kontak dari budaya asing terhadap kepribadian bangsa.

Dari sinilah kita mengambil pijakan perlunya transmisi budaya. Selain agar tidak punah, pelestarian Budaya menjadi hal yang wajib kita perhatikan. Kekayaan Indonesia terletak pada budaya yang Adi Luhung dan keramah-tamahan. Jika budaya tersebut hilang bisa dikatakan kita membuang harta kita yang berharga. Kita akan miskin dan tidak punya nilai lagi.

4.      Kesenjangan merupakan salah satu Isue dalam pendidikan. Beri contoh kesenjangan yang anda ketahui!

Pendidikan bertugas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan akhirnya bangsa tersebut akan memiliki kemampuan untuk mandiri dan berdikari. Bila dibaca sepintas sangat indah pernyataan di awal tulisan ini karena menyiratkan harapan besar akan eksistensi sesuatu yang bernama pendidikan. Kesadaran tinggi untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dalam wujud pendidikan sebenarnya menjadi mutlak diperlukan agar generasi penerus dapat melanjutkan kelangsungan atau denyut nadi kehidupan bangsa, khususnya bangsa Indonesia dan NKRI.
Kebutuhan mengenyam pendidikan tidak sepantasnyalah dijadikan kebutuhan sekunder apalagi tersier dalam tujuan untuk bersaing di era globalisasi. Mengapa dikatakan demikian? Hal ini dapat dilihat dari tingkat persaingan yang membutuhkan kemampuan profesional untuk terus bertahan melawan arus globalisasi.
Sebuah kemunafikan jika ada person yang menyatakan bahwa pendidikan  adalah omong kosong yang tidak akan berguna banyak dalam mencari nafkah. Namun pernyataan tersebut memang memiliki legitimasi umum jika dikaitkan dengan keadaan masyarakat Indonesia saat ini. Beragam penderitaan sosial dialami sehingga sebagian besar hidup para kaum dhuafa tersebut dihabiskan untuk mempertahankan hidup, berjuang sekuat tenaga untuk mendapat sesuap nasi. Dalam hal ini hanya satu yang ada di benak mereka: bagaimana saya bisa hidup?.
Kemirisan hidup itulah yang mengakibatkan eksistensi pendidikan tergerus, dan akhirnya menciptakan ketidakpedulian terhadap proses pendidikan, khususnya pendidikan formal. Bayangkan, mencari makan untuk bertahan hidup susah, apalagi membiayai seluruh proses pendidikan formal yang penuh dengan beragam biaya yang telah diprogramkan sekolah. Memikirkannya saja susah, apalagi melaksanakannya dengan kemampuan sendiri, bisa dibayangkan bagaimana menderitanya mereka menanggung hak yang jelas-jelas tidak perlu mereka risaukan sedikit pun karena semua itu menjadi tanggungan negara, sesuai dengan UUD 1945. Sebuah keadaan yang menciptakan ironi di tengah gencarnya pemerintah meyakinkan masyarakat bahwa dana 20% pendidikan akan menjadi jawaban atas tentangan pemerataan pendidikan.
Sumber dari ketidakmerataan pendidikan memang terletak pada kemiskinan yang menjadi penyakit kronis bangsa Indonesia. Pendidikan yang sejatinya menjadi sarana untuk melakukan mobilitas kelas sosial kelak terancam mengalami degradasi pada proses awal karena tatanan partikel yang ada di dalamnya mengalami goncangan dan ketidakharmonisan.
Pendidikan dapat diasumsikan menjadi sebuah keluarga bila dilihat dari segi kesinambungan partikel yang ada didalamnya. Keterkaitan yang sangat erat antara partikel satu dengan yang lain menjadi suatu hal yang tidak dapat dinafikkan, sehingga guncangan atau ketidakharmonisan yang terjadi akan mengakibatkan pendidikan mengalami degradasi pelaksanaan. Mungkin bila dikaitkan dengan status dalam keluarga itu sendiri dapat dikatakan dalam sebuah pendidikan ada yang termasuk anak tiri dan anak kandung. Penulis berasumsi bahwa anak kandung itu adalah guru PNS, pegawai PNS, sekolah negeri elite, universitas negeri dan partikel pendidikan yang di bawah naungan pemerintah. Sedangkan untuk anak tiri dapat dilihat pada sekolah swasta yang terpinggirkan, sekolah pinggiran/pedalaman yang meskipun negeri tetapi terpinggirkan karena letak daerahnya yang terpencil, anak terlantar yang terpaksa mengemis, ngamen, mengumpulkan sampah untuk memenuhi biaya hidup, guru non-PNS/swasta yang setidaknya memiliki peran sebagai pejuang pendidikan di luar barisan resmi pemerintahan.
      Ketidakharmonisan memang sering terjadi antara elemen anak tiri dan elemen anak kandung. Bila anak tiri menuntut sering dikatakan bahwa mereka bisanya hanya menuntut dan tidak bisa bersabar. Ungkapan ini mungkin bisa ditolerir bila para anak tiri menunggu hanya satu, dua, tiga tahun, tapi yang terjadi apa? Para anak tiri menunggu hampir bertahun-tahun dan itupun kadang kandas di tengah jalan. Entah itu karena kealpaan pihak birokrasi atau faktor teknis yang sudah banyak diklaim oleh berbagai pihak. Sebagai gambaran dapat dilihat pada salah satu elemen anak tiri yaitu guru non-PNS yang sering juga mengalami nasib dualisme perhatian. Perhatian pertama harus dia curahkan terhadap murid yang sangat diharapkannya untuk menjadi generasi penerus bangsa, sedangkan perhatian kedua harus dia curahkan pada nasib dirinya beserta keluarga. Jika kesejahteraan tidak terjamin, bagaimana guru tersebut dapat maksimal mengaplikasikan perannya mendidik dan mengajar muridnya.
Sekali lagi dapat dilihat ketegaran hati dari segelintir mereka untuk tetap mengabdi dengan penuh senyuman meskipun balasan yang diterima tidak setimpal.
Pernah terlintas dalam benak penulis bahwa keluarga pendidikan Indonesia saat ini mengalami perpecahan yang sangat kronis. Mungkin hanya dalam beberapa tahun terakhir ini ada angin segar bernama sertifikasi pendidikan dan komitmen pemerintah menggelontorkan dana 20% APBN untuk pendidikan. Siasat ini diharapkan oleh pemerintah menjadi salah satu upaya untuk mendamaikan anak tiri yang sedang sekarat dan terkadang juga bisa meradang tanpa arti di hadapan sang orang tua, “pemerintah” Republik Indonesia”. Belaian tangan berupa kebijakan pencairan dana 20% dinilai banyak pihak untuk meredam gejolak penurunan minat memaksimalkan pendidikan oleh golongan anak tiri.

No comments:

Post a Comment