Monday, March 28, 2011

TATA RIAS DAN BUSANA

Ditulis Oleh : Ni Nyoman Seriati, M.Hum
Dikutip Oleh : Arum Yunita M

 Tata Rias dan Tata Busana dua serangkai yang tidak dapat dipisahkan untuk penyajian suatu garapan tari. Seorang penata tari perlu memikirkan dengan cermat dan teliti tata rias dan tata busana yang tepat guna memperjelas dan sesuai dengan tema yang disajikan dan akan dinikmati oleh penonton. Untuk itu memilih desain pakaian dan warna membutuhkan pemikiran dan pertimbangan yang matang karena kostum berfungsi untuk memperjelas pemeranan pada tema cerita.
Dibawah ini  akan dijelaskan pengertian dari Tata Rias
  1. Tata Rias
Tata rias merupakan cara atau usaha seseorang untuk mempercantik diri khususnya pada bagian muka atau wajah, menghias diri dalam pergaulan. Tata rias pada seni pertunjukan  diperlukan  untuk menggambarkan/menentukan watak di atas pentas. Tata rias adalah seni menggunakan bahan-bahan kosmetika untuk mewujudkan wajah peranan dengan memberikan dandanan atau perubahan pada para pemain di atas panggung/pentas dengan suasana yang sesuai dan wajar (Harymawan, 1993: 134). Sebagai penggambaran watak di atas pentas selain acting yang dilakukan oleh pemain  diperlukan adanya tata rias sebagai usaha menyusun  hiasan terhadap suatu objek yang akan dipertunjukan.
Tata rias merupakan aspek dekorasi, mempunyai berbagai macam kekhususan yang masing-masing memiliki keistimewaan dan ciri tersendiri. Dari fungsinya rias dibedakan menjadi delapan macam rias yaitu:

1)    Rias aksen, memberikan tekanan pada pemain yang sudah mendekati peranan yang akan dimainkannya. Misalnya pemain orang Jawa memerankan sebagai orang Jawa hanya dibutuhkan aksen atau memperjelas garis-garis pada wajah.
2)    Rias jenis, merupakan riasan yang diperlukan untuk memberikan perubahan wajah pemain berjenis kelamin laki-laki memerankan menjadi perempuan, demikian sebaliknya.
3)    Rias bangsa, merupakan riasan yang diperlukan untuk memberikan aksen dan riasan pada pemain yang memerankan bangsa lain. Misalnya pemain bangsa Indonesia memerankan peran bangsa Belanda.
4)    Rias usia, merupakan riasan  yang mengubah seorang muda (remaja/pemuda/pemudi) menjadi orang tua usia tujuh puluhan (kakek/nenek).
5)    Rias tokoh, diperlukan untuk memberikan penjelasan pada tokoh yang diperankan. Misalnya memerankan tokoh Rama, Rahwana, Shinta, Trijata, Srikandi, Sembadra, tokoh seorang anak sholeh, tokoh anak nakal.
6)    Rias watak, merupakan rias yang difungsikan sebagai penjelas watak yang diperankan pemain. Misalnya memerankan watak putri luruh (lembut), putri branyak (lincah), putra alus, putra gagah.
7)    Rias temporal, riasan berdasarkan waktu ketika pemain melakukan peranannya. Misalnya pemain sedang memainkan  waktu bangun tidur, waktu dalam pesta, kedua contoh tersebut dibutuhkan riasan yang berbeda.
8)    Rias lokal, merupakan rias yang dibutuhkna untuk memperjelas keberadaan tempat pemain. Misalnya rias seorang narapidana di penjara akan berbeda dengan rias sesudah lepas dari penjara.
Untuk dapat menerapkan riasan yang sesuai dengan peranan, diperlukan pengetahuan tentang berbagai sifat bangsa-bangsa, tipe dan watak bangsa tersebut. Selain itu diperlukan pula pemahaman tentang pengetahuan anatomi manusia dari berbagai usia, watak dan karakter manusia, serta untuk seni pertunjukan tari dibutuhkan pengetahuan tentang karakter dan tokoh pewayangan.
      b.   Tata Busana
Busana (pakaian) tari merupakan segala sandang dan perlengkapan (accessories) yang dikenakan penari di atas panggung.
Tata pakaian terdiri dari beberapa bagian
1)      Pakaian dasar, sebagai dasar sebelum mengenakan pakaian pokoknya. Misalnya, setagen, korset, rok dalam, straples
2)      Pakaian  kaki, pakaian yang dikenakan pada bagian kaki. Misalnya binggel, gongseng, kaos kaki, sepatu.
3)      Pakaian tubuh, pakaian pokok yang dikenakan pemain pada bagian tubuh mulai dari dada sampai pinggul. Misalnya kain, rok, kemeja,  mekak, rompi, kace, rapek, ampok-ampok, simbar dada, selendang, dan seterusnya.
4)      Pakaian kepala, pakaian yang dikenakan pada bagian kepala. Misalnya berbagai macam jenis tata rambut (hairdo) dan riasan bentuk rambut (gelung tekuk, gelung konde, gelung keong, gelung bokor, dan sejenisnya). 
5)      Perlengkapan/accessories, adalah perlengkapan yang melengkapi ke empat pakaian tersebut di atas untuk memberikan efek dekoratif, pada karakter yang dibawakan. Misalnya perhiasan gelang, kalung, ikat pinggang, kamus timang/slepe ceplok, deker (gelang tangan), kaos tangan, bara samir, dan sejenisnya.
Perlengkapan atau alat yang dimainkan pemeran di atas pentas disebut dengan istilah property. Misalnya, selendang, kipas, tongkat, payung, kain, tombak, keris, dompet, topi, dan semacamnya.
Tata rias dan busana ini berkaitan erat dengan warna, karena warna di alam seni pertunjukan berkaitan dengan   karakter seorang tokoh yang dipersonifikasikan kedalam warna busana yang dikenakan beserta riasan warna make up oleh tokoh bersangkutan oleh karenanya warna dikatakan sebagai simbol. Dalam pembuatan busana penari, warna dapat juga digunakan hanya untuk mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan keindahannya saja dalam memadukan antara yang satu dengan lainnya. Dalam pembuatan kostum, warna  menjadi syarat utama karena begitu dilihat warnalah yang membawa kenikmatan utama. Di dalam buku Dwimatra (2004: 28 – 29) warna dibedakan menjadi lima yaitu, warna primer, sekunder, intermediet, tersier, dan kuarter.
a)    Warna primer  yaitu disebut juga warna pokok/warna utama, yang terdiri dari warna merah, kuning, dan biru.. Warna  merah adalah simbol keberanian, agresif/aktif. Pada dramatari tradisional warna tersebut biasanya dipakai oleh raja yang sombong, agresif/aktif. Misalnya: Duryanada, Rahwana, Srikandi. Warna biru mempunyai kesan ketentraman dan memiliki arti simbolis kesetiaan. Pada drama tradisional warna tresebut dipakai oleh seorang satria atau putri yang setia kepada Negara dan penuh pengabdian. Misalnya; Dewi Sinta, Drupadi. Warna kuning mempunyai kesan kegembiraan.
b)    Warna sekunder adalah warna campuran yaitu hijau, ungu, dan orange.
c)    Warna intermediet adalah warna campuran antara warna primer dengan warna dihadapannya. Misalnya warna merah dicampur dengan hijau, biru dengan orange, kuning dengan violet.
d)    Warna tersier adalah campuran antara warna primer dengan warna sekunder yaitu warna merah dicampu orange, kuning dengan  orange, kuning dengan hijau, hijau dengan biru, biru dengan violet, violet dengan merah.
e)    Warna kuarter yaitu percampuran antara warna primer dengan warna tersier, dan warna sekunder dengan tersier yang  melahirkan 12 warna campuran baru..
f)     Warna netral yaitu hitam dan putih. Warna hitam memberikan kesan kematangan dan kebijaksanaan. Pada drama tradisional biasa dipakai oleh satria, raja, dan putri yang yang bijaksana. Misalnya Kresna, Puntadewa, Kunti. Sedangkan warna putih memberikan kesan  muda, memiliki arti simbolis kesucian. Di dalam drama tradisional warna tersebut dipakai oleh pendeta yang dianggap suci.  

Warna-warna tersebut di atas dapat digolongkan menjadi dua bagian sesuai dengan demensi, intensitas,  terutama bila dikaitkan dengan emosi seseorang yang disebut dengan warna panas dan warna dingin. Warna panas yaitu merah, kuning, dan orange. Warna dingin terdiri atas hijau, biru, ungu, dan violet.
Dalam pembuatan pakaian tari warna dan motif kain menjadi perhatian dan bahan pertimbangan, karena berhubungan erat dengan peran, watak, dan karakter para tokohnya.  
Warna sebagai lambang dan pengaruhnya terhadap karakter dari tokoh (pemain). Penggunaan warna dalam sebuah garapan tari dihubungkan dengan fungsinya sebagi simbol, di samping warna mempunyai efek emosional yang kuat terhadap setiap orang.
Warna biru memberi kesan perasaan tak berdaya (tidak merangsang), terkesan dingin. Warna hijau  memberi kesan dingin. Warna kuning dan orange memberi kesan perasaan riang, menarik perhatian. Warna merah memberi kesan merangsang, memberi dorongan untuk berpikir (dinamis). Warna merah Jambu mengandung kekkutan cinta. Warna Ungu memberi kesan ketenangan.

10. Property
Properti adalah semua peralatan yang dipergunakan untuk kebutuhan tari. Biasanya property disesuaikan dengan tema tarian yang akan ditampilkan baik untuk tarian putra maupun tarian putri. Berdasarkan pemanfaatannya property dibedakan menjadi dua yaitu: dance prop dan stage prop.
Dance prop adalah segala peralatan yang dipakai /dipegang atau dimainkan  oleh seorang penari pada waktu menari. Adapun property yang biasa dipakai dalam tari trasional di Indonesia: kipas, saputangan, selendang/sampur, panah, keris, pedang, tameng, gada, tombak, kendi, boneka, sabit, caping, tenggok, tali, payung, bokor dan sebagainya. Dalam pemakaian property yang perlu  dipertimbangkan adalah mengusahakan agar alat tersebut bisa menyatu dengan gerak, dan sesuai dengan isi garapan tarinya.
Stage prop adalah segala peralatan yang ditata di atas panggung yang membantu penampilan garapan tarinya. Alat-alat yang biasa dipakai antara lain bingkai, trap, gapura, pepohonan, sekat, dan juntaian kain.

11.Lighting / Tata Lampu
Tata lampu berfungsi untuk memberi penerangan penari di atas panggung, disamping itu tata lampu juga berfungsi untuk membantu mempertkuat/mengangkat  suasana dalam garapan karya tari.
Tata lampu dibedakan menjadi dua yaitu: lampu tradisional dan lampu modern.
a.       Lampu tradisional, masih bersifat sederhana  menggunakan minyak tanah misalnya: obor, lampu teplok, petromak, lilin.
b.      Lampu modern, menggunakan alat bantuan tenaga listrik. Misalnya spot light, strip light, foot light (lampu kaki), lampu ini bias sehingga perlu diberi kertas warna untuk dapat memantulkan sinar yang berwarna-warni dengan tujuan dapat mewujudkan/membantu suasana yang diinginkan.
Fungsi Tata Lampu, sebagai alat penerangan, penciptaan suasana, misalnya suasana agung dengan warna kuning, perang (warna merah), sedih (warna ungu). Penguat adegan misalnya penggunaan follow untuk menguatkan adegan percintaan.

12. Stage / Tata Panggung
Bentuk panggung seni pertunjukan di Indonesia sesuai dengan jenis pementasan dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu bentuk tradisional, dan modern.
Bentuk tradisional sangat kaya sesuai dengan daerah yang ada di
Nusantara ini yang diwariskan oleh nenek moyang dan terpelihara dengan baik sampai sekarang. Adapun bentuk-bentuk panggung tersebut yaitu: pendapa di Jawa, bentuk wantilan di Bali, rumah gadang di Sumatera., arena dan sebagainya.
Sedangkan panggung modern adalah bentuk panggung proscenium baik dalam bentuk tertutup maupun terbuka. Bentuk tertutup biasanya dibatasi dengan wing yang ada pada sisi kanan dan kiri panggung.

C. Koreografi
            Seorang koreografer dan pakar tari Sal Murgiyanto mengungkapkan koreografi adalah pemilihan dan tindakan atau proses pemilihan dan pembentukan gerak menjadi sebuah tarian . Sementara itu dikatakan kata koreografi berasal dari bahasa Yunani yaitu choreia ( tarian koor) dan  graphia (penulisan). Koreografi berarti penulisan dari tarian koor.  Dalam perkembangan selanjutnya koreografi dimaksudkan cara merencanakan laku baik ditulis maupun tidak.

1. Aspek-aspek Koreografi
            Dalam membuat suatu koreografi selalu dihadapkan pada bentuk sebagi wujud dari hasil akhir yang bisa dinikmati oleh penonton, oleh karenanya ada beberapa aspek yang harus dipertimbangkan guna mencapai hasil tersebut diantaranaya:
aspek isi,  bentuk, tehnis, dan proyeksi.
  1. Aspek Isi
Aspek isi adalah pokok masalah (dapat juga diartikan tema) dari sebuah karya tari. Dalam karya tari isi dapat ditangkap lewat gerak-gerak yang diungkapkan  oleh penari. Isi menjadi bagian yang penting yang harus sejak awal sudah diyakini oleh penata tari karena lewat isi inilah penata tari akan terbimbing dalam mendapatkan gerak serta menentukan langkah-langkah yang berkaitan dengan dramatic, dinamika, serta penokohan bila ada.
  1. Aspek Bentuk
Bentuk diartikan sebagai wujud, bangun dan dalam bahasa Inggris diartikan sebagai form. Bentuk dalam sebuah karya tari adalah terjemahan dari isi dan merupakan penyatuan dari berbagai elemen yang dihadirkan di dalam ruang (di atas panggung). Elemen tersebut baik berupa gerak, desain lantai, dinamika, dramatik dan yang lainnya.
  1. Aspek Teknis
Aspek tehnis adalah salah satu sarana untuk mencapai sasaran atau salah satu alat untuk mencapai terwujudnya bentuk. Melalui aspek tehnis ini membantu para penata tari untuk mewujudkan isi. Penata tari diharapkan memiliki dasar tehnik  gerak yang baik dan kuat, ini tentunya tidak lepas dari bekal gaya (style)  tari etnis yang ada di nusantara.
Apabila seorang mahasiswa akan berkarya dia harus membekali dirinya dengan gaya dan tehnik tari yang dipilih dengan baik, misalnya yang dipilih gaya Yogyakarta khususnya tari putri halusan, disini penata tari harus tahu dan menguasai patokan-patokan yang ada dalam tari putri halus gaya Yogyakarta, apa yang menjadi ciri gaya halusan putri.dan  patokan-patokan gerak yang harus ditaati.
Dalam kaitannya dengan hal tersebut pemilihan penari juga memegang peran penting karena keberhasilan piñata tari sangat tergantung pada penari, oleh karenanya sangat dibutuhkan penari-penari yang trampil dan sensitif untuk mendukung gaya tersebut. Tehnik adalah sarana untuk mencapai sasaran
  1. Aspek Proyeksi/jembatan
Aspek proyeksi adalah hubungan magis antara bentuk sajian karya tari dengan penonton. Dalam kaitannya dengan proyeksi pemain/penarilah yang memegang peran penting Karena ide koreografer diterjemahkan oleh penari dan diungkapkan lewat gerak Oleh karenya keterlibatan ,disiplin, keterampilan gerak, ekspresi mimic dan ekspresi gerak  harus terjalin dengan baik antara piñata penari dengan penari.
Pemilihan gerak yang tepat dan cermat sesuai dengan tema garapan  menjadi hal yang utama dengan harapan pesan-pesan yang diinginkan piñata tari sampai ke penonton.

2.  Proses Peggarapan Koreografi
a. Eksplorasi
Eksplorasi diartikan sebagai penjajagan  sebagai pengalaman untuk menanggapi beberapa obyek dari luar yang sering disebut juga dengan berpikir, berimajinasi, merasakan,meresponsikan. Kegiatan ini dilakukan lewat berbagai aktivitas yaitu pengamatan terhadap peristiwa yang terjadi dilingkungan sekitarnya, peristiwa alam, dengan membaca cerita baik cerita sejarah, legenda, novel, cerpen, epos Mahabarata, Ramayana, ritual keagamaan bahkan sampai peristiwa yang dialami sendiri oleh piñata tari.
Dari peristiwa yang terjadi dilingkungan sekitar misalnya tentang kemiskinan, demonstrasi dari masyarakat dalam menentang kondisi politik, keramaian pasar , panen raya dan yang lainnya.  Sedangkan dari peristiwa alam terjadinya gunung meletus, gempa bumi, sunami, kebakaran, angina rebut, tanah longsor,badai di tengah lautan, ombak, banjir dan yang lainnya. Dari pristiwa tersebut di atas apa yang bisa ditangkap oleh koreografer selanjutnya dituangkan ke dalam satu ide garapan. Eksplorasi tidak tergantung hanya pada obyek yang dapat dilihat saja, melainkan dapat juga dengan membayangkan atau berangan-angan terhadap obyek yang belum pernah dilihat misalnya dasar laut, dinginnya salju, panasnya bara api, tentang mahluk halus.
  1. Improvisasi
Improvisasi diartikan sebagai penemuan  gerak secara spontan, entah gerak tersebut pernah dilihat sebelumnya ataukah muncul pada saat pencarian gerak. Pada saat improvisasi sangat dituntut kepercayaan diri seseorang dan tidak terpengaruh atau meniru orang lain.
Improvisasi dapat dilakukan dengan beberapa cara/tahap yaitu diawali dari gerak sederhana melalui bagian-bagian anggota badan seperti menggerakan kaki, lengan, kepala, badan yang dilakukan mulai gerak di tempat selanjutnya berpindah tempat serta menggabungkan beberapa gerak dari anggota tubuh.
Selanjutnya dapat diisi dengan mengisi ruang, mengolah level, mengisi suara musik mengisi tempo dan ritme. Untuk melatih penemuan gerak-gerak seperti tersebut diatas sebaiknya para mahasiswa diajak untuk berkonsentrasi dengan memejamkan mata guna menghindari pengaruh disekitarnya atau meniru teman lain.
Dalam latihan improvisasi bisa dilakukan dengan berbagai cara  misalnya mahasiswa disuruh bergerak berlawanan arah satu dengan yang lainnya, dengan sentuhan maksudnya ketika disentuh oleh temannya langsung ikut bergerak.


  1. Evaluasi
Evaluasi dimaksudkan setelah melewati improvisasi  dengan mendapatkan penemuan gerak yang cukup banyak, koreografer harus memilih gerak- gerak yang didapatkan disesuaikan dengan tema yang digarap. Seorang piñata tari harus mengambil keputusan dipakai dan tidaknya gerak yang telah didapat
  1. Pembentukan/Komposisi
Setelah melewati evaluasi  selanjutnya adalah pembentukan, pada proses ini pembentukan dimaksudkan adalah bagaimana gerak menjadi satu kesatuan /rangkaian (Jawa disebut ragam). Dalam hal ini sudah barang tentu gerak sudah diarahkan pada tema , bentuk, setruktur, irama yang berkaitan dengan ritme dan tempo garapan dan disesuaikan dengan tema garapan. Gerak disini sudah membentuk satu ragam dan telah mempertimbangkan transisi/perpindahan dari ragam satu keragam berikutnya.

3. Kreativitas
Kreativitas merupakan suatu proses mental yang dilakukan individu berupa gagasan ataupun produk baru atau mengkombinasikan antara keduanya yang pada akhirnya akan melekat pada dirinya (JJ Gallagher dalam Yeni Rochmawati, 2005: 15). Sementara itu Supriyadi (1994: ) mengutarakan kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang abru baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relative berbeda dengan apa yang telah ada. Definisi berilutnya diutrakan oleh Csikzentmihalyi (dalam Munandar, 1995) mengatakan bahwa kreativitas merupakan pengalaman dalam mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu antara hubungan diri sendiri, alam, dan orang lain.  Sementara itu menurut Sumandiyo Hadi (1983: 7) kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dari segala apa yang telah ada maupun yang belum pernah ada. Tabrani (200:43) memberikan definisinya tentang kreativitas  adalah salah satu kemampuan manusia yang dapat membantu kemampuannya yang lain hingga sebagai keseluruhan dapat mengintegrasikan stimulasi- luar dengan stimulasi dalam  sehingga tercipta sesuatu kebulatan yang baru.
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan  bahwa kreativitas merupakan suatu proses mental individu yang melahirkan gagasan, proses, metode ataupun produk baru yang bersifat imajinatif, estetis, fleksibel, integrasi dan berdaya guna dalam berbagai bidang untuk pemecahan ssuatu masalah.
Ada 5 macam perilaku kreatif Nursito ( dalam Rachmawati: 16 -17)
  1. Kelancaran (fluency) yaitu,kemampuan mengemukakan ide-ide yang serupa untuk memecahkan suatu masalah.
  2. Keluwesan (flexibility) yaitu kemampuan untuk menghasilkan berbagai macam ide guna memecahkan suatu masalah di luar katagori yang biasa..
  3. Keaslian (originality) yaitu kemampuan memberikan respon yang unik atau luar biasa.
  4. Keterperincian (Elaboration) yaitu kemampuan menyatakan pengarahan ide secara terperinci untuk mewujudkan ide menjadi kenyataan
  5. Kepekaan (Sensitivity) yaitu kepekaan menangkap dan menghasilkan masalah sebagai tanggapan terhadap suatu situasi.
Ciri-ciri pribadi yang kreatif menurut Supriadi (dalam Munandar, 2005: 17)
1)    Terbuka terhadap pengalaman baru.
2)    Fleksibel dalam berpikir dan merespon.
3)    Bebas dalam menyatakan pendapat dan perasaan.
4)    Menghargai fantasi.
5)    Tertarik pada kegiatan-kegiatan kreatif.
6)    Mempunyai pendapat sendiri dan tidak terpengaruh orang lain.
7)    Mempunyai rasa ingin tahu yang besar.
8)    Toleransi terhadap perbedaan pendapat dan situasi yang tidak pasti.
9)    Berani mengambil resiko yang diperhitungkan.
10)  Percaya diri danmandiri.
11)  Memiliki tanggung jawab dan komitmen kepada tugas.
12)  Tekun dan tidak mudah bosan.
13)  Tidak kehabisan akal dalam memecahkan masalah.
14)  Kaya akan inisiatif.
15)  Peka terhadap situasi lingkungan.
16)  Lebih berorientasi ke masa kini dan masa depan dari pada masa lalu.
17)  Memiliki citra diri dan stabilitas emosi yang baik.
18)  Tertarik kepada hal-hal yang abstrak, kompleks, holistic, dan mengandung teka-teki.
19)  Memiliki gagasan yang orisinal.
20)  Mempunyai minat yang luas.
21)  Menggunakan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat dan konstruktif bagi  pengembangan diri.
22)  Kritis terhadap pendapat orang lain.
23)  Senang mengajukan pertanyaan.
24)  Memiliki kesadaran etik, moral dan estetika yang tinggi.
Kreativitas akan muncul pada individu yang memiliki motivasi tinggi dan hanya berkembang dalam proses kreasi baik dalam ukuran besar  maupun kecil.
Dalam proses kreatif ada beberapa factor yang perlu diperhatihan antara lain: lingkungan, sarana, keterampilan, identitas, orisinalitas, dan apresiasi.

  1. Lingkungan, teridiri dari lingkungan  dalam ( internal) dan lingkungan luar (eksternal). Lingkungan dalam adalah  factor pribadi yang berkaitan dengan kemampuan dan bakat seseorang. Sedangkan lingkungan luar adalah  factor yang berasal dari luar diri seseorang yang dapat mempengaruhi proses kreatif seperti  pendidikan, sering menonton pertunjukan, terlibat dalam pementasan.
  2. Sarana /fasilitas,  terdiri dari fisik dan non-fisik. Fisik dapat diartikan tubuh manusia yang dipakai sebagai media ungkap, disamping itu fisik juga diartikan sebagai tempat untuk menyelenggarakan kegiata. Sedangkan non-fisik berkaitan dengan alat/properti yang dapat membantu/memberi inspirasi seseorang.
  3. Keterampilan/skill, dapat diartikan sebagai suatu cara untuk mengerkan dengan cepat dan tepat. Bagi seseorang yang memiliki daya kreativitas yang tinggi akan dapat dengan cepat merespon  peristiwa-peristiwa yang terjadi dan menuangkan ke dalam kedalam suatu karya. Berkaitan dengan dunia tari kegiatan ini dilakukan untuk mencapai keterampilan gerak secara teknis, karena keterampilan gerak  adalah bekal yang tak ternilai harganya untuk dikembangkan dan digunakan sebagai sarana penari untuk memenuhi perwujudan sebuah tarian.
  4. Identitas/gaya, apapun yang ditampilkan oleh seniman cirri pribadinya akan nampak dalam karyanya dan juga cirri lingkungan dimana seniman tersebut berada.
  5. Orisinalitas/keaslian, walaupun seniman itu hanya meramu , menyusun namun orisinalitas tetap harus dijaga.
  6. Apresiasi/penghargaan, maksudnya penghargaan sebagai dorongan yang memberi semangat dalam proses kreatif.

2 comments:

  1. terimakasih,....cukup memberi wawasan untuk menambah pengetahuan tentang seni (pertunjuka)

    ReplyDelete